Halaman Utama » Profile

Mahalnya Idealisme, si Anak Hadal TB Silalahi

20 July 2008 10 Komentar

Siapa yang tidak mengenal Letjen (Purn) TB. Silalahi? Setelah sukses dalam karir militer, berhasil juga menempatkan diri sebagai salah seorang putra Batak yang mampu menjadi tokoh nasional. Berbagai kegiatan sosial keagamaan dan budaya, sukses besar ditangannya. Kedekatan dengan lingkaran kekuasaan sejak Orde Baru, Orde Reformasi dan belakangan dengan SBY, membuatnya dalam posisi “bisa berbuat banyak”.

Aktualisasi Diri “Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon” :

Tampaknya keberhasilan karir militer dan berbagai jabatan organisasi sosial kemasyarakatan, menjadi modal utama hingga dapat mengumpulkan harta melimpah. Hal ini dapat terlihat dari kiprah TB. Silalahi dalam melakoni berbagai kegiatan yang mengundang decak kagum. Sedikit membingungkan memang, TB Silalahi yang bukan pebisnis itu, mampu meraih kesuksesan materi. Lihat saja, pembangunan Sekolah Plus di bawah Yayasan Sopo Surung, Pembangunan Wisma Ompu Herty, Pembangunan Perusahaan Air Mineral, terakhir Pembangunan TB. Silalahi Center, yang tergolong biaya tinggi itu.

Gbr. Heli, Tank bekas dan Pemandangan  Danau Toba

Manfaat dan implikasi kegiatan TB Silalahi tidak dapat dipungkiri telah memacu akselerasi pengembangan generasi Batak, baik di bidang pendidikan, agama dan ekonomi. Jadilah, TB. Silalahi Center menjadi salah satu monumen penting, bahkan mercu siar di Ranah Batak, Toba Khususnya. Sepertinya, tiga serangkai prinsip Batak, yaitu Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (banyak keturunan) dan Hasangapon (Kehormatan), telah menghampirinya.

Gbr. Gedung Museum, Rumah Batak dan Tangga Rumah Batak

Sebagai seorang awam yang melibatkan diri dalam pekerjaan sosial kemasyarakatan lewat organisasi non pemerintah (ornop) di Tanah Batak, saya mencoba mempelajari kiprah TB. Silalahi, bukan dari jarak yang paling dekat. Pemberitaan, dokumentasi karya, dan kunjungan ke situs yang dibangunnya, menjadi bahan utama saya dalam mempelajari TB. Silalahi. Bias, sangat mungkin terjadi.

Apakah semua jenderal itu kaya? Kalau, di Indonesia, sepertinya jawabannya “Ya”. Lihat saja  para Jenderal kita, seperti Soeharto, Maraden Panggabean, Wiranto, dan banyak yang lain. Sepertinya karir militer termasuk polisi, suatu jaminan menjadi seseorang yang kaya-raya. Persoalanya, diperlihatkan secara eksplisitkah atau ditutup-tutupi. Mencari jenderal yang hidup sederhana, sulit. Itu realitas kita–Indonesia.

Idealisme atau “Mangalingdanghon na Gok”?

Kembali soal TB Silalahi yang tidak jauh berbeda dengan generasi Batak seangkatannya. Kemiskinan dan kesulitan hidup merupakan sebuah gambaran hidup yang dilalui. Ini dapat dikeahui dari profil yang dilansir berbagai media, tentang masa lalunya yang penuh perjuangan. Di samping sebagai seorang militer, TB. Sialahi, ternyata juga berhasil menjadi komisaris di berbagai perusahaan bertaraf nasional dan internasional. Pertanyaan yang menggelitik, apakah itu tidak mengurangi kadar keprajuritannya?

Indonesia, kadung memilih jalan yang tidak tepat dalam penempatan profesionalisme seseorang sesuai dengan bidang keahliannya. Militer kita, ternyata pernah diberi ruang yang begitu luas, bebas dan nyaris kehilangan kontrol dalam memainkan perannya.

Berdasarkan kondisi tersebut, wajar jika para jenderal kita memiliki harta yang melimpah, termasuk seorang TB. Silalahi di dalamnya. Sebagai seoarang generasi muda Batak, secara pribadi saya melihatnya sebuah keberhasilan yang tidak dapat dikategorikan “biasa”. Luar biasanya, TB. Silalahi, ternyata belum berhenti ketika dia memasuki wilayah “pensiun” dari karir militer. Berbagai event yang dibuatnya sendiri, atau mengikuti event berskala nasional lainnya tetap menempatkan TB. Silalahi sebagai seorang sosok yang harus diperhitungkan.

Masih segar diingatan kita, betapa TB. Silalahi berhasil menakhodai suatu kepanitiaan natal nasional di Jakarta, kepanitiaan perhelatan pertemuan CCA di Medan dan berbagai kegiatan formal dan informal lainnya. Operet Perjalanan Hidup Nommensen yang berhasil mendapat pengakuan (bukan tanpa kritikan), dari berbagai pihak. TB. Silalahi, memposisikan diri sebagai jembatan (bridge), antara umat Kristen dengan Kekuasaan, antara Pelajar dengan Dunia Pendidikan Modern, antara Generasi Muda Batak dengan Habatahon, antara Marga Sialalahi dengan berbagai peluang.

Hari Sabtu, 19 Juli 2008 yang lalu, saya dengan keluarga tanpa terencana melalui Jl. Desa Pagar Batu No.88 Ds. Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir – Propinsi Sumatera Utara dan  memasuki area TB. Silalahi Center. Semuanya, tertata rapih, mendidik, informatif, artisitik dan historik. Di kepala ku timbul pertanyaan, “sebanyak apa uang dihabiskan untuk membangun fasilitas ini?”.

TB. Silalahi Center, yang megah itu menyimpan begitu banyak kekayaan budaya Batak. Perpaduan antara keindahan Danau Toba dengan artistik Batak, serta gagahnya dunia militer. Heli dan Tank Bekas, bertengger di halaman depan. Di belakang, ada Rumah Tradisional Batak yang berhasil dipindah dari berbagai tempat aslinya. Di dalam museum, tidak sempat kami saksikan.

Gbr. Miniatur Huta Batak, Parsombaonan, dan Pemandangan Menjelang Malam

Gbr. Handycraft Shop, Cafetaria dan Pemandangan Danau Toba

Di antara segala bentuk keberhasilan TB. Silalahi, terselip pertanyaan yang menggoda untuk dijawab “Idelismekah?” atau “Mangalindanghon na gok, saja?” (menghamburkan yang sudah banyak dimiliki). Jika, TB. Silalahi ingin menjadi tokoh yang akan dikenang dalam kurun waktu yang lama. Jika, TB. Silalahi ingin menjadi sejarah, tentu pertanyaan tersebut sebaiknya, dijawab. Jawaban yang dibutuhkan, adalah seberapa jujur, seberapa lurus jalan yang ditempuh dalam mengumpulkan “hamoraon” yang dimiliki sekarang? Jika, dijawab maka TB. Silalahi akan menjadi tokoh handal, dan jika tidak, akan tetap sebagai “Anak Hadal”. Sebab, era keterbukaan sudah menghampiri kita!

Horas Pak TB. Silalahi

10 Komentar »

  • Ferdie Tambunan

    aku sudah pernah ke tb silalahi center yang lae tulis ini, terus terang aku heran untuk apa gunanya dibuat ini, karena yang paling utama kulihat malah museum pribadi beliau, yang jadi pertanyaan masa masih hidup sudah bikin museum sendiri dan patung sendiri, benar benar mubazir lah menurutku lae ! ironis sekali dengan kondisi kampung didekatnya.

    mauliate

    parporsea

  • YAG

    Di jakarta banyak pejabat dan pengusaha berusaha membangun Center-nya dengan tujuan politik. Sedangkan TB Silalahi membangun Center-nya di pelosok balige sana… untuk apa kalau bukan untuk menjaga budaya kita orang batak. Faktanya adalah saat ini sangat sedikit dari orang-orang batak yang ingat bonapasogit nya dan mau berbuat untuk menjaga kekayaan daerah nya.
    Saya melihat begitu bangga nya pak Poltak befoto di depan tank (sembari berkacak pinggang ^^) dan tersenyum bersama dengan istri dan keluarga saat berkunjung ke sana. Saya yakin berkunjung ke sana akan memberikan aspirasi baik, at least pak Poltak bisa memberikan informasi ke anak2 nya bagaimana sih ulos itu, bagaimana sih rumah adat itu, mengapa ada desain seperti itu, apa makna nya. Marilah yang baik kita dukung dulu pak, demi kemajuan kita bersama orang-orang batak ini…

  • Tenimanuk Napiolet

    Berbuat baik untuk kebaikan
    Berbuat jahat untuk kebaikan
    Berbuat baik untuk kejahatan
    Berbuat jahat untuk kejahatan

    Bagi saya, beliau sudah berbuat untuk bonapasogit. Dan saya berharap beliau adalah type orang yang pertama.

    Saya juga berterimakasih kepada saudara penulis yang telah bebuat baik dengan mem-publikasi-kan bonapasogit melalui tuliasn ini, tentu juga dengan harapan bahwa tulisan ini untuk niat baik.

    Mauliate

  • Humas TB Silalahi Center

    Kalau saudara Poltak mencintai Bonapasogit (Tanah Batak), seharusnya saudara tidak berpikir negatif akan apa yang telah dilakukan TB Silalahi dalam membangun kampung halamannya. Seolah-olah dia hanya mencari popularitas saja dengan mendirikan TB Silalahi Center dan Yayasan Soposurung dll. Kalau saudara cermat menganalisanya, tanpa membangun apa-apa pun dikampung, beliau sudah populer di negara ini, beliau merupakan tokoh nasional dan malah terkenal sekali di Papua yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan di Sulawesi yang mayoritas beragama Islam.
    Banyak sekali orang Batak yang kekayaannya jauh melebihi Bapak TB Silalahi akan tetapi tidak berbuat apa-apa terhadap kampung halamannya. Saudara perlu mengetahui bahwa sudah ratusan anak-anak Bona Pasogit lulusan SMA Yasop (tinggal di asrama dan gratis selama 15 tahun) telah berhasil meraih sarjana al. Dokter, Sarjana Tehnik, dsb yang sudah bekerja diperusahaan-perusahaan elit bukan saja hanya didalam negeri akan tetapi juga di luar negeri. Di Bona ni Pasogit sendiri sudah ada 6 dokter lulusan SMAN 2 Yasop yang bekerja. Ini sangat disyukuri oleh orang Batak khususnya.
    Menjawab pertanyaan saudara darimana uang untuk membangun semua itu, perlu saudara ketahui bahwa investasi ke SMA Yasop yang kalau dihitung semua bisa mencapai 20 milyar itu adalah semuanya berasal dari sumbangan daripada tokoh-tokoh dari Jakarta baik yang berasal dari suku Batak maupun suku lain. Hal ini bisa anda lihat dari nama-nama bangunan yang ada di Yasop tertera nama-nama para donatur tersebut. Apakah saudara Poltak sudah pernah kesana?
    Mengenai TB Silalahi Center, perlu juga anda ketahui bahwa tanah tempat gedung itu berdiri adalah tanah dari warisan nenek moyangnya sendiri, milik saudara-saudaranya sendiri dan tidak terlalu banyak biaya untuk membebaskannya. Nama kampung itupun adalah Pagar Batu Silalahi. Dulu gedungnya adalah pabrik air minum yang dibangun oleh investor yakni PT. Nyonya Meneer untuk memanfaatkan sumber air yang melimpah disana. Akan tetapi akhirnya pabrik itu ditutup karena selama berjalan lebih dari 15 tahun pabrik air minum tersebut (aeroz) selalu merugi. Atas kemurahan pimpinan jamu Ny. Meneer gadungnya dihibahkan kepada TB Silalahi dan gedung inilah yang kemudian direnovasi untuk mendirikan TB Silalahi Center yang bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan budaya Batak karena TB Silalahi sangat mencintai dan bangga terhadap leluhurnya. Usaha ini sangat tulus karena banyak tokoh-tokoh nasional yang mendirikan yayasan atau center di Jakarta supaya bergengsi dan mendapat kehormatan yang akhirnya untuk tujuan politik. TB Silalahi Center berkedudukan di desa yang pada masa lalu termasuk desa miskin dan terpencil.
    Tentang pernyataan saudara bahwa semua Jenderal kaya-kaya, anda salah besar. Karena banyak Jenderal-jenderal termasuk sahabat beliau yang miskin dan menderita dan malah untuk membayar pengobatan dan biaya rumah sakitpun mereka tidak mampu. Jenderal ataupun aparatur negara yang setingkat eselon satu non militer, sesudah pensiun statusnya sama saja. Ada yang kaya dan ada juga yang miskin tergantung daripada nasibnya. Khusus untuk TB Silalahi sesudah pensiun, dia langsung memegang jabatan Presiden Komisaris diberbagai perusahaan nasional maupun internasional yang gajinya lumayan besar dan dalam bentuk dolar. Gajinya sebulan jauh lebih besar dari biaya hidupnya.
    Kalau dipikir-pikir apalagi sih yang beliau cari karena seperti yang saudara ungkapkan juga bahwa beliau sudah mencapai hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Beliau merupakan tokoh nasional yang disegani di negara ini, walupun sudah pensiun dari militer dan menteri masih tetap dipakai yakni sebagai penasehat Presiden SBY. Apakah menurut anda dia masih perlu mencari popularitas? Sebelum berkomentar seharusnya anda mempelajari pribadinya terlebih dahulu. Ketika anda berkunjung ke TB Silalahi Center seharusnya anda baca dulu biografinya yang sudah dibuat dalam 2 buku yakni “anak hadal” dan “TB Silalahi bercerita tentang pengalamannya” dari sana anda akan mengenal pribadinya lebih dalam. Satu hal yang pasti bahwa dia selalu berpegang teguh pada ajaran agamanya yang mengatakan bahwa “semua yang dia perolah didunia ini adalah berasal dari Tuhan dan akan dia kembalikan kepadaNya” seperti yang selalu dinyanyikan di gereja HKBP ketika kollekte “Nasa na di lehon Mi…hupasahat i tu Ho…” dan dia telah membuktikannya bahwa dia tidak henti-hentinya membangun kampung halamannya untuk orang Batak yang dicintainya walaupun tidak semua orang Batak itu menghargainya.

    Humas TBSC-rks

  • Henry EP Tambunan

    Horas manjua-jua..!
    Saya pernah teringat waktu Pak TB.Silalahi hadir pada saat acara Bona taon Silahi Sabungan 2007 di Jakarta,dia mengatakan bahwa ciri-ciri dari suatu bangsa yg besar adalah :
    Memiliki kebudayaan , memiliki bahasa , dan tulisan.
    di negara kita hanya ada 2 suku bangsa yang memiliki ketiga hal tersebut diatas yaitu : Suku Jawa , dan suku Batak.
    kebetulan saya lahir di makasar dan banyak merantau ke daerah Dili,Bali,dan Jawa Timur.
    Terus terang saya belum pernah melihat seperti apa bentuk tulisan / aksara batak yang dimaksud, kalau bisa tolong dong di lihatkan ke kita-kita generasi muda ini di situs/web site budaya batak milik TB.Silalai Center.
    Thank’s ya atas perhatian & bantuannya.
    Horas Jala Gabe..!

  • Entatarina Simanjun tak

    Bapak TB Silalahi adalah salah satu panutan bagi smua orang batak, mnurutku. Dia bukan orang yang nato (no action talk only). Dia lebih suka berkarya,,,dan TB Silalahi Center adalah salah satu bukti bisu akan hal itu. kalo “manggalindangkon na adong” saja, dia tidak harus membangun itu smua di tanah batak. banyak hal2 yang bisa dilakukannya agar orang lain bisa mengenangnya…ngapain susah2 membangun tanah batak untuk dapet kenangan (yang pada umumnya orang2 nya susah untuk berterima kasih dan malah adanya “hotel” alias hosom teal elat late yang marak!!!). Kecintaannya yang sangat dalam lah membuatnya berkarya n membangun tanah batak dan itu idealisme, mnurutku!!

  • Enty Cantikasari Namorashende

    ikuttttt (lagi!!)

    “Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon” kayaknya perlu ditambah lagi “HAPORSEAON” biar makin klop
    without that ,,, we’re same with this world :P

  • Farida Simanjuntak

    Horas….
    Bangso Batak patut berbangga hati denagn “Si anak Hadal” TB Silalahi, yang sudah berusaha membangun citra generasi muda Batak yang berprestasi. Dengan keberadaan SMU Yayasan Sopo Surung, semua golongan masyarakat dapat merasakan pendidikan. Bahkan, kesetiakawanan diantara alumninya sangat kuat. Saat seorang alumninya ttidak bisa melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya, mereka beramai-ramai menanggung. Saya memang belum penah ke TB SILALAHI CENTER, tapi dari cerita dan gambar ang saya lihat, ada terselip kebanggaan, bahwa Bangso Batak kian terangkat namanya. Dan para generasi muda terutama anak-anak bisa semakin mengenal sejarah dan identitas sukunya… Semoga akan semakin banyak terlahir, Orang Batak yang Handal dan mampu menyumbangkan jasa dan pikirannya bagi Tanah Batak….

  • yeni

    top. kerjanya ito poltak ini ternyata lebih cepat dari wartawan. langsung publish:) gaya tulisannya bahkan udah kayak editorial pula he..he..he.. analisisnya bagus to. btw, thanks ya to untuk tebengannya Balige-Parapat :)

  • Ridwan Panjaitan

    Horas….
    Aq sebagai warga indonesia keturunan *keturunan batak maksud nya nie.
    sangat bangga dengan ada nya TB SILALAHI CENTER di bona pasogit, ini menunjukan bahwa nanti nya akan tercipta bgitu banyak para orang pintar dan brprestasi yg berasal dari tanah batak, harapan aq itu bisa trwujud, AMIN.
    Sukses untuk perjalanan nya lae.GBU.

    @Lae Ridwan Panjaitan
    Ditunggu kunjungan Lae, ke Tanah Batak… :)

Tulis komentar anda!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

Website ini support dengan gravatar silahkan buat account anda disini Gravatar.

Open Sort Options

Sort comments by:
  • * Applied after refresh